Senyum yang Hilang
Oleh:
R. Muhammad Arya Naufal
Ini kisah seorang
perempuan Bernama Daria, perempuan dengan tanda lahir seperti luka pada
wajahnya. Ia lahir pada pertengahan malam menjelang pagi pada tradisi jawa,
menjadikan ia harapan sebagai anak yang bisa membawa harapan bagi semua orang,
setidaknya itu yang diharapkan oleh orang tuanya. Namun pada kelahiranya ibunya
meninggal tak berselang lama setelah melahirkan, ayahnya juga mengikuti ibu
daria pada akhirnya, Ketika daria berumur lima tahun. Masa kecilnya pun ia habiskan
bersama neneknya, seorang juru masak di sebuah kerajaan bernama Suryakarta,
kerajaan besar yang menguasai daerah selatan, barat, dan timur. Neneknya begitu
di kenal di kalanagan pembantu kerajaan karena masakannya yang begitu
menggiurkan dan membuat mereka yang memakanya seperti ingin hidup hanya untuk
memakan makana yang di masaknya, di sisi lain daria tinggal di sana membantu
neneknya menjadi juru masak, bukan hanya sekedar membantu ia di hibahkan untuk
menjadi kepala koki selanjutnya menggantikan neneknya.
Umur terus bertambah
hingga menggapai usia 14 tahun, ia terus tumbuh di kerajaan tanpa keluar dari
lingkup istana karena sang nenek khawatir pada tanda lahir yang ada pada daria
karena dalam lingkup istana sendiri daria sering di hina dan dilukai karena tanda
luka tersebut, hari itu daria keluar membeli bahan makan untuk pertama kali
Bersama neneknya, berjalan mudah awalnya, namun setelah sampai pasar semua
berubah, semua memandang daria seoalah ia terkena penyakit, menjauhinya secara
reflek, bahkan ada yang bergosip menebak apa yang menimpa anak itu hingga
wajahnya memiliki tanda.
Bagi daria itu
merupakan hal biasa, karena di lingkup kerajaan-pun seperti itu, namun daria
merasakan ada yang berbeda di sini karena lebih banyak mata yang memandangnya,
seolah menghiraukan hal tersebut daria menutupi wajahnya lalu mengusap air mata
yang keluar.
“hei nak, aku tau
ini menyakitkan tapi aku percaya kau akan belajar banyak hal dari ini semua”,
ujar neneknya.
Berjalan pertama
kali Bersama neneknya entah kenapa membuat ia melupakan sekejap pandangan
orang-orang, seolah ada senyuman mungil yang mekar saat memandang neneknya
berjalan, berbelanja, bahkan ada momen dimana nenek daria menginjak kotoran
ternak dan itu cukup membuat daaria tersenyum.
“mungkin ini momen
yang tak akan pernah kulupakan”, dalam hati daria berkata
Doorrr suara keras
memenuhi pasar, nenek daria tumbang dengan darah mengalir keluar dari tubuh
neneknya, daria terdiam, terkejut, dan pada akhirnya menangis, semua riuh
berlarian kesana kemari mencari apa yang sedang terjadi karena bukan hanya
nenek daria yang tumbang, setelah mencari tahu pada akhirnya korban semakin
bertambah, suara dentungannya terus terdengar dibarengi dengan teriakan
kesakitan, tangisan, dan kehisterisan. Itu adalah orang asih yeng menggunakan
senjata yang aneh, di masa depan senjata ini bernama pistol.
Benar ada sesuatu
yang datang, di kenal sebagai ras kulit putih, tinggi, besar, juga memiliki
bahsa aneh yang mereka gunakan. Di luar kebisingan itu semua dari masih terdiam
dan menangis memeluk neneknya.
“Pulanglah, dan
laporkan ini pada raja” ucap neneknya pelang, “pulanglah!!” suara keras
menegaskan perintah sebelumnya karena daria masih belum bergerak
Dengan air mata yang
masih menetes daria meninggalkan neneknya dan berlari menuju kerajaan, melewati
gerbang, membuka pintu istana, dalam istana sudah cukup ramai dalam
kebisisngan, tak perduli hal tersebut daria melaporkan apa yang terjadi di
pasar pada raja dengan tangis mengisak. Raja sudah tau apa yang sedang terjadi,
ini peperangan yang mungkin berjalan bertahun-tahun.
Raja memerintahkan
bersiap utnuk perang, daria diam-diam ikut dalam barisan yang berjalan menuju
pasar dengan membawa pisau dapur, dendam memenuhi dirinya. Perang pun terjadi,
begitu banyak korba di sisi kerajaan dibandingkan dengan pihak musuh, banyak
pasukan yang sekarat dan pada akhirnya para pendatang tersebut melarikan diri
untuk sementara waktu, dalam peristiwa lain di dekat daria ada seorang yang
sudah ia lihat dari tida dengan menggenggam pisau erat. Iya, itu sang pembunuh
nenek, daria ragu dalam hati memastikan apakah ini benar, tapi dendam sudah
menguasai dirinya, dan ia membunuhnya, gadis kecil yang bahkan belum berusia 15
tahun. Perasaan aneh dirasakan daria, resah, bersalah, sedih, kotor, iblis,
tapi semua ia terima dan mencamkan dalam hati.
“Akan ku bunuh
semuanya” di saat itulah senyum kecilnya mulai menghilang.
Namun 20-an tahun
kemudian ia dikenal sebagai ksatria yang memimpin beribu pasukan yang akhirnya
berhasil mengalahkan penjarah tanah mereka dengan berani dan menjadi perempuan
pertama yang memimpin pasukan sebanyak itu dalam negeri tersebut.
Komentar
Posting Komentar