Senyum yang Hilang

Oleh: R. Muhammad Arya Naufal

Gambar oleh Stefan Keller dari Pixabay

Ini kisah seorang perempuan Bernama Daria, perempuan dengan tanda lahir seperti luka pada wajahnya. Ia lahir pada pertengahan malam menjelang pagi pada tradisi jawa, menjadikan ia harapan sebagai anak yang bisa membawa harapan bagi semua orang, setidaknya itu yang diharapkan oleh orang tuanya. Namun pada kelahiranya ibunya meninggal tak berselang lama setelah melahirkan, ayahnya juga mengikuti ibu daria pada akhirnya, Ketika daria berumur lima tahun. Masa kecilnya pun ia habiskan bersama neneknya, seorang juru masak di sebuah kerajaan bernama Suryakarta, kerajaan besar yang menguasai daerah selatan, barat, dan timur. Neneknya begitu di kenal di kalanagan pembantu kerajaan karena masakannya yang begitu menggiurkan dan membuat mereka yang memakanya seperti ingin hidup hanya untuk memakan makana yang di masaknya, di sisi lain daria tinggal di sana membantu neneknya menjadi juru masak, bukan hanya sekedar membantu ia di hibahkan untuk menjadi kepala koki selanjutnya menggantikan neneknya.

Umur terus bertambah hingga menggapai usia 14 tahun, ia terus tumbuh di kerajaan tanpa keluar dari lingkup istana karena sang nenek khawatir pada tanda lahir yang ada pada daria karena dalam lingkup istana sendiri daria sering di hina dan dilukai karena tanda luka tersebut, hari itu daria keluar membeli bahan makan untuk pertama kali Bersama neneknya, berjalan mudah awalnya, namun setelah sampai pasar semua berubah, semua memandang daria seoalah ia terkena penyakit, menjauhinya secara reflek, bahkan ada yang bergosip menebak apa yang menimpa anak itu hingga wajahnya memiliki tanda.

Bagi daria itu merupakan hal biasa, karena di lingkup kerajaan-pun seperti itu, namun daria merasakan ada yang berbeda di sini karena lebih banyak mata yang memandangnya, seolah menghiraukan hal tersebut daria menutupi wajahnya lalu mengusap air mata yang keluar.

“hei nak, aku tau ini menyakitkan tapi aku percaya kau akan belajar banyak hal dari ini semua”, ujar neneknya.

Berjalan pertama kali Bersama neneknya entah kenapa membuat ia melupakan sekejap pandangan orang-orang, seolah ada senyuman mungil yang mekar saat memandang neneknya berjalan, berbelanja, bahkan ada momen dimana nenek daria menginjak kotoran ternak dan itu cukup membuat daaria tersenyum.

“mungkin ini momen yang tak akan pernah kulupakan”, dalam hati daria berkata

Doorrr suara keras memenuhi pasar, nenek daria tumbang dengan darah mengalir keluar dari tubuh neneknya, daria terdiam, terkejut, dan pada akhirnya menangis, semua riuh berlarian kesana kemari mencari apa yang sedang terjadi karena bukan hanya nenek daria yang tumbang, setelah mencari tahu pada akhirnya korban semakin bertambah, suara dentungannya terus terdengar dibarengi dengan teriakan kesakitan, tangisan, dan kehisterisan. Itu adalah orang asih yeng menggunakan senjata yang aneh, di masa depan senjata ini bernama pistol.

Benar ada sesuatu yang datang, di kenal sebagai ras kulit putih, tinggi, besar, juga memiliki bahsa aneh yang mereka gunakan. Di luar kebisingan itu semua dari masih terdiam dan menangis memeluk neneknya.

“Pulanglah, dan laporkan ini pada raja” ucap neneknya pelang, “pulanglah!!” suara keras menegaskan perintah sebelumnya karena daria masih belum bergerak

Dengan air mata yang masih menetes daria meninggalkan neneknya dan berlari menuju kerajaan, melewati gerbang, membuka pintu istana, dalam istana sudah cukup ramai dalam kebisisngan, tak perduli hal tersebut daria melaporkan apa yang terjadi di pasar pada raja dengan tangis mengisak. Raja sudah tau apa yang sedang terjadi, ini peperangan yang mungkin berjalan bertahun-tahun.

Raja memerintahkan bersiap utnuk perang, daria diam-diam ikut dalam barisan yang berjalan menuju pasar dengan membawa pisau dapur, dendam memenuhi dirinya. Perang pun terjadi, begitu banyak korba di sisi kerajaan dibandingkan dengan pihak musuh, banyak pasukan yang sekarat dan pada akhirnya para pendatang tersebut melarikan diri untuk sementara waktu, dalam peristiwa lain di dekat daria ada seorang yang sudah ia lihat dari tida dengan menggenggam pisau erat. Iya, itu sang pembunuh nenek, daria ragu dalam hati memastikan apakah ini benar, tapi dendam sudah menguasai dirinya, dan ia membunuhnya, gadis kecil yang bahkan belum berusia 15 tahun. Perasaan aneh dirasakan daria, resah, bersalah, sedih, kotor, iblis, tapi semua ia terima dan mencamkan dalam hati.

“Akan ku bunuh semuanya” di saat itulah senyum kecilnya mulai menghilang.

Namun 20-an tahun kemudian ia dikenal sebagai ksatria yang memimpin beribu pasukan yang akhirnya berhasil mengalahkan penjarah tanah mereka dengan berani dan menjadi perempuan pertama yang memimpin pasukan sebanyak itu dalam negeri tersebut.

Komentar