Mencari Sebuah Sayap

 Oleh: R. Muhammad Arya Naufal

Gambar oleh Ralph dari Pixabay


Ini adalah kisahku mencari sepasang sayap, kenalkan Aku Rama seoarang manusia yang berharap bisa menemukan sayap yang lepas ketika Aku lahir. Benar disini sedikit berbeda dengan dunia kalian (para manusia biasa), mungkin. Tapi di dunia ini manusia mendapatkan sayap mereka, bisa dibilang sayap tersebut adalah pemberian dari sesosok malaikat yang kami anggap sebagai Dewi untuk manusia mendapatkan kebebasan mereka dari kabut gelap yang menyerang dunia ini. Dan sayangnya Aku kehilangan hal yang sangat penting tersebut.

Kejadian seperti ini adalah hal yang lumrah, dimana terkadang ada sayap yang lepas begitu saja dari tubuh anak-anak yang baru lahir. Sayangnya penyebab dari fenomena tersebut masih belum diketahui. Dan bisa dibilang kalau fenomena itu juga sering terjadi hingga bahkan bisa ditemui sayap-sayap yang terbang berkeliaran di langit. Sayap-sayap itu adalah sayap yang lepas dari tubuh Tuan mereka ketika kelahirannya.

Sekarang usiAku 21 tahun, dan selama 21 tahun itu pula Aku dikelilingi kabut abu-abu. Tapi menggunakan lentera yang di isi oleh energi kehidupan yang kita miliki, energi tersebut kemudian menjadi cahaya yang itu bisa menjadi pengganti kekuatan dari sayap yang asli. Meskipun butuh mengambil daya hidup kita sebagai bahan bakarnya, itu lebih baik daripada mati dalam kabut abi-abu. Disini sering terjadi perbincangan seperti apa kematian yang diakibatkan oleh kabut tersebut, karena setiap yang mati memiliki mata yang membalak keluar, hidung mengeluarkan nanah, bahkan setiap lubang pada tubuh kita mengeluarkan cairan tersebut. ditambah lagi ada fenomena kegilaan yang terjadi sebelum kematian itu. Benar-benar mengerikan.

Jadi yaa, setidaknya mengurangi usia membuat kita lebih lama hidup meski pada akhirnya akan mati dengan cepat.

Dalam usia 21 tahun ini, Aku masih mencari sayap tersebut, sayapku.

Tapi dalam berjalanan pencarian itu, Aku dikelilingi oleh sayap yang ingin manancapkan diri mereka dipunggungku. Mereka adalah sayap yang berkeliaran liar, sayap-sayap yang juga terlepas dari anak-anak lain yang baru lahir, sama sepertiku, disini sayap-sayap itu memilihku. Mungkin bisa dibilang setiap Aku keluar rumah, hampir dari mereka semua memilihku.

Aneh bukan, maksudku siapa Aku? Hingga bisa dipilih oleh sayap-sayap yang cantik ini. Kalian tahu bahwa ini sebenarnya agak berat, bukan hanya secara fisik karena menerima semua tancapan sayap tersebut, tapi juga secara mental karena bukan Aku pemiliki asli dari sayap-sayap ini dan seperti layaknya sebuah sihir, kita juga harus menyelaraskan energi yang kita miliki, itu melelahkan.

Pada akhirnya Aku bimbang dan dikurung oleh asumsi-asumsi negatif yang kuciptkan, mengenai betapa tidak pantasnnya Aku menerima semua sayap ini. Aku tahu bahwa harusnnya Aku bersyukur ketika banyak orang ingin memiliki sayap dan Aku mendapatkan sebanyak yang orang lain tidak dapatkan. Aku senang, jujur. Tapi entah kenapa Aku merasa bahwa memang bukan Aku yang seharusnya yang sayap-sayap ini gantungkan. Ada lebih banyak orang yang pantas. Bahkan lebih banyak orang yang pantas.

Jujur sampai sekarang Aku tidak tahu kenapa, sempat Aku berpikir bahwa sayap-sayap yang berkeliaran memutari kepala ku menganggap bahwa Aku adalah seorang dari salah satu manusia yang masih hidup dari bencana kabut abu-abu, tapi manusia selainku juga banyak, sayangnya Aku masih belum menemukan jawabnnya. Dan berpikir bahwa semua sayap yang berterbangan penasaran terhadapku sebagai manusia.

Tapi setelah sekian lama, ini berjalan terlalu jauh. Para sayap ini mulai mencoba untuk menancapkan batang tulang mereka padaku. Aku tahu mungkin ini agak terdengar menyakitkan. Tapi itulah yang terjadi ketika ada sayap yang menemukan seorang pemiliki atau orang yang cocok denagn sayap tersebut. maka batang sayap itu akan meruncing kemudia menusukan dirinnya ke orang tersebut secara cepat. Hingga setiap siang atau malam pasti dapat didengarkan sebuah teriakan kesakitan orang-orang yang menerima sayap-sayap ini. Tapi kadang ada juga hari yang sepi seperti padang sahara yang hanya angin bertiup tanpa ada suara jeritan terdengar.

Hampir setiap hari pula Aku tertancap sayap-sayap ini, kesakitan-sakit sekali. Seperti menanggung beban dua gunung besar beserta langitnya, mungkin terlihat melebih-lebihkan. Tapi Aku yakin perasaanku tidak salah. Aku juga sempat berpikir bahwa beban tersebut datang karena mereka bukanlah sayapku, melainkan sayap manusia lain yang juga sedang mencari mereka. Aku bukanlah pemiliki sayap-sayap ini.

Dalam fenomena lain juga kerap terjadi sebuah sayap yang kehilangan pemiliknya, kami menyebutnya sayap Alo yang berarti tanpa tuan. Bisa ditinggal karena kematian, atau tuan mereka menemukan sayap lain yang bagus dari sayap aslinya.

Itulah kenapa banyak sayap liar yang berkeliaran, mengudara bebas, tapi tidak benar-benar bebas. Karena jika mereka tidak menemukan pemiliki asli atau pemilik lain, mereka akan melebur dengan udara. Dan sewaktu-waktu ada juga yang menjadi sebuah cahaya. Cahaya inilah yang kita gunakan sebagai jimat bagi kita yang tidak memiliki sayap. Tapi hal tersebut adalah kasus yang langka, jadi bisa dibilang Aku cukup beruntung untuk hal tersebut. Aku bisa mendapatkan cahaya dari kenalan orang tua ku, kata mereka itu diberikan oleh nenek tua yang sudah sekarat dan memberikan sayapnya padaku untuk dijadikan lentera sebagai pelindungku. Dalam kasus yang paling buruk ada sayap yang menjadi gila dan akhirnya melebur bersama kabut abu-abu.

Dari pemahaman tersebut kuputuskan untuk menerima sayap-sayap liar itu, tentu saja tidak langsung semuannya. Melainkan satu persatu, artinya setiap sayap bisa bertengger dipunggungku selama satu hari saja. Dan kemudian digantikan sayap yang lain, begitu seterusnya. Hingga pada tahap tertentu sakit karena terus-terusan berganti sayap membuatku hampir benar-benar gila. Semua rasa sakit itu membuatku bahkan hampir kehilangan diriku sendiri.

Hari paling buruk terus terjadi, bukan karena Aku tidak bersyukur memiliki sayap, melainkan rasa sakit yang terus dirasakan. Bahkan hingga sekarang. Dengan lentera yang kubawa, sayap yang tertancap dipunggung yang entah pemiliknnya masih hidup atau tidak, dan sayap lain yang masih berputar diatas kepala ini masih menunggu giliran menancapkan tulang runcing mereka. Duduk disebuah taman ketika malam hari, tempat inilah dimana Aku melAkukan pergantian sayap. Dingin luar biasa.

Setiap hari hampir kulAkukan “ritual” tersebut, rasa sakit yang dihadirkan juga tiap hari kurasakan. Bosan memang, bahkan lebih dari bosan, menyakitkan. Disaat itulah diriku hilang dalam arti harfiahnya, kalian tau moksa? Itu mungkin kata yang paling cocok, Aku mulai melebur dengan kabut, badan ku berubah menajdi materi halus yang disebut atom, air matAku mulai keluar, tak henti-hentinya menangis. berteriak keras tak berdaya, berpikir apakah ini keputusan yang tepat? Apa ini hal yang benar yang harus kulakaukan. Semua pertanyaan mengenai aktualisasi diri bermunculan, tapi tetap saja itu adalah keputusan ku, keputusan yang Aku buat. Setidaknnya Aku harus bertanggung jawab untuk hal tersebut. bertanggung jawab dengan semua sayap ini, untuk bisa beratahan hidup lebih lama demi mereka bisa mencari Tuan mereka.

Lalu bagaimana dengan diriku? Entahlah, Aku sudah mulai merasa harus menyerah untuk mencari sayap ku. Hingga batas tertentu bahakan Aku semat berpikir untuk mengambil sayap yang lain.  Boleh tentu saja tapi tetap saja hati ini merasa aneh serasa ada guncangan jiwa yang terjadi jika hal tersebut kulAkukan. Lalu secara tiba-tiba ketika Aku mulai menghilang menjadi partikel-partikel kecil. Inti badanku yang masih utuh menarik partikel-partikel diriku. Semua sayap yang berputar itu mematahkan setiap helai bulu pada sayapnya, dan menajdikkannya sayap yang baru, kelahiaran baru. Sayap yang lahir dari semua sayap yang utuh. Tapi dengan kesadaran diri mereka, hal tersebut membunuh mereka. Secara cepat sayap baru itu datang dan menancapkan dirinnya padaku. Kali ini rasa sakit tidak kurasakan, melainkan sebuah kehangatan. Secara perlahan badanku mulai kembali utuh,  sebuah keajaiban juga datang padaku. Sayap yang lahir dari sayap-sayap lainnya.

Seakan dunia berhenti bergerak, kita berdua salaing berkomunikasi. Berbiacara seakan sudah terlalu lama kita saling berdiam diri. Bagai teman lama yang tak kunjung bertemu, kita merasa ada ikatan yang terjadi. kita juga sama-sama berpikir mungkin hal tersebut adalah akibat sayap-sayap yang tertancap padaku dulu. Isi ingatan dan memori mereka yang sudah tewas dan berganti ke sayap baru ini.

Sambil saling menatap dengan mata berkaca kesakitan, terharu, kecewa, tak berdaya, bahkan marah. Aku berkata pada sayap tersebut, terima kasih-Aku sangat berterima kasih. Aku tau bagaimana perasaanmu, tapi Aku belum siap menerima sayap indah ini. Maaf. Sekali lagi maaf. Dengan hening malam itu kami berdua terdiam, menunduk, dan tak saling menyapa.

“Hei, kau bisa menggunakanku. Aku tidak apa-apa, jika kau ingin menggunkanku untuk mencari sayapmu juga tak apa, Aku benar-benar ikhlas, dan berterima kasih padamu. Tunggu bukan Aku, tapi sayap-sayap ini”. Ucapa yang merasuk dalam pikiranku, entah kenapa itu memberiku sebuah kedamaian.

Pada akhirnya Aku bersama sayap baru ini, Bersama mencari saypku yang hilang. Berptualang bersama, saling berbagi rasa, sakit sekali jika dipikirkan lagi. Karena kita berdua tau bahwa ujung dari semua ini adalah perpisahan.

Komentar